Tampilkan postingan dengan label Celotehan Shema. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celotehan Shema. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juli 2014

Sepasang Malaikat



Aku lahir diantara keluarga yang istimewa. keluargaku hebat karena mampu mendidikku melihat setiap detail kehidupan dengan kacamata yang berbeda. Agar aku mampu memaknai hal sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa.
Ayahku, bagiku dia lebih hebat dari seorang Superman. Apapun dia lakukan agar mampu membuat keluarganya selalu merasa dalam kecukupan. Meski akibatnya jam istirahatnya hanya tersisa beberapa jam.
Suatu hari, dia bahkan rela menjadi seorang salesman sebuah brand sepeda motor, agar mampu membawakan ibuku sebuah mesin cuci tepat di hari ulang tahun perniikahan. :’)
Dia laki - laki yang tegas. Dia akan sangat marah padaku ketika aku lalai dalam menjaga diriku.
Dari kecil, ayah selalu bilang aku harus mampu menjadi tentara perang, setidaknya untuk diriku sendiri.
‘Soldier of mine’ :)
Dia penuh kasih Sayang, suatu malam menjelang pagi aku pernah memergokinya datang kekamarku diam - diam untuk sekedar membenarkan posisi selimutku, memastikan Putri kecilnya agar tidak kedinginan.
Ibuku,
tidak ada sosok yang pantas aku bandingkan dengannya. Dia luar biasa, si pekerja keras yang tidak pernah mengeluh meski keringatnya habis terkuras.
Dia Ibu yang hebat bagi anak - anaknya.
Dia istri yang luarbiasa untuk suaminya.
Ibuku tidak pernah keberatan menemani ayahku meski ia harus ikut merangkak dari dasar.
Ibuku, guru nomor satu. Dia mengajarkanku bagaimana harus bersikap sebagai wanita yang kuat.
Darinya, aku tahu apa itu definisi berjuang yang sebenarnya.
Ibuku tidak pernah keberatan meski harus berperan ganda, menjadi tenaga pendidik di sebuah sekolah dan menjadi ibu rumah tangga yang luar biasa ketika dirumah .
Ia tak keberatan harus tidur satu dua jam tiap harinya agar aku, kakak ku, dan adikuu mendapat pendidikan yang lebih layak.
Dia tidak ingin terlihat lemah, aku tidak pernah melihatnya menangis
selain saat dia berdoa usai tahajudnya.. Dan namaku tak pernah absen dicibir didalamnya. :’)
Kedua orang tuaku bukan tipe orang yang memiliki banyak waktu luang. Tapi aku tidak pernah merasa kurang perhatian.
Meski ketika kecil setiap hari aku harus terkunci didepan rumah menunggu mereka pulang bekerja, meski ketika kecil aku pernah merasa iri yang luar biasa karena saat anak lain berangkat ke sekolah bersama ibunya tapi aku harus berjalan sendirian.
Meski ketika kecil aku akrab sekali dengan kesepian, meski ketika kecil aku tidak jarang menjadi sasaran amarah mereka saat sedang pusing dengan berbagai tuntutan pekerjaan
Meski saat kecil aku tidak jarang menangis diam - diam.
Aku, tidak pernah menyesal.
Aku bersyukur sekali menjadi bagian dari keluarga ini.
Meski semua orang dirumah sibuk, tapi kami selalu menyediakan waktu untuk bertukar cerita tentang hari - hari berat yang berhasil kita lalui.
Kami tidak pernah kehabisan tawa dan kebahagiaan kami
Keluargaku hebat, Karena memiliki sepasang malaikat dengan satu potong sayap pada masing - masing bahunya. Malaikat itu selalu berpegangan tangan menyatukan sayapnya agar menjadi sempurna untuk bisa terbang.
Membawa kami ke tempat yang lebih tinggi agar lebih mampu menikmati semesta yang telah Tuhan hadiahi kepada kami.
Sepasang malaikat itu, kedua orangtuaku.:’)
Dibuat dengan perasaan yang masih hangat Karena sebuah pesan singkat
-Shema-
16 Juni 2014

Just The “Dunya”




You’re standing besides the sea,
Nothing but free,
Blue water surrounds your feet,
The feeling is so sweet,
Do you believe what your eyes see?
For some reason you can finally breathe,
A clear mind,
Standing still in time. 
I’m thinking about how it would be,
To live like this on a beach…
Sunny days make me feel complete,
Star filled nights makes my heart skip a beat.
But this is just the “Dunya”,
It’s like the part when we sleep.
I’d rather live out on the streets,
Than let this world ruin me…
It’s only my shade from the heat,
Money doesn’t talk for me.
How far can you see?
What about the poor and the needy?
Won’t be questioned about being greedy,
They’ll get paid in a later stage.
I want to stay far away from wealth,
I need to start taking care of my health,
No matter what, look out for yourself…
Need a partner here but not just for this life,
For the “akhirat”, help each other survive.
I’m looking ahead; I’m looking beyond,
Drop what you’re doing, we don’t have long…

Albert Einstein: Genius Pembuka Tabir Misteri Alam


Albert Einstein: Genius Pembuka Tabir Misteri Alam

einstein121
Manusia bumi abad 20 lalu yang paling besar jasanya bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia mungkin adalah Albert Einstein (AE). Dengan teori relativitasnya – baik teori relativitas umum dan teori relativitas khusus – berikut rumus matematisnya yang dahsyat itu: E = mc2, AE telah berhasil menjawab fenomena-fenomena alam yang belum mampu dijawab oleh teori fisika yang dihasilkan oleh pendahulunya, Isaac Newton dan kawan-kawan.
AE dilahirkan pada hari Jumat tanggal 14 Maret 1879 di kota Ulm, sebuah kota makmur di selatan Jerman, sebagai putera pertama dan satu-satunya putera dari pasangan Hermann Einstein dan Pauline Koch. Tahun 1880, keluarganya pindah ke Munich dan di kota ini ayah dan pamannya membuka toko kimia elektro. AE tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat, tergolong anak yang pendiam, agak penyendiri, gemar membaca – sejak kecil AE gemar melahap buku-buku yang tergolong ”serius dan berat” –, mendengarkan musik, dan tidak menyukai olahraga yang penuh aturan. Wataknya yang keras membuat AE lebih banyak belajar sendiri di rumah atau di laboratorium pribadinya. AE juga menyukai kegiatan berlayar – yang membuatnya merasa tenang dengan menikmati alam – dan pandai memainkan biola. AE merupakan pasangan duet yang hebat dengan ibunya yang pandai memainkan piano.
Minat dan kecintaannya pada fisika dimulai pada saat ia berusia lima tahun. Saat ia terbaring lemah di tempat tidur akibat penyakit yang dideritanya, ayahnya memberikan hadiah sebuah kompas. Kebesaran dan keagungan alam semesta yang terefleksi dalam sebuah kompas mempesonanya dan membulatkan tekadnya untuk menguak segala tabir misteri yang berada di balik segala fenomena alam.
Walaupun tidak begitu menyukai kegiatan di bangku sekolah, AE tetap mampu berprestasi dengan sangat baik, menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1900. Setelah dua tahun menganggur, akhirnya AE memperoleh pekerjaan di kantor paten di Swiss. Sambil menekuni kesibukannya di kantor paten – bahkan pernah ia dinobatkan sebagai Best Employer oleh atasannya – AE tidak pernah melupakan janji kepada dirinya sendiri untuk berkarir di bidang pengembangan ilmu pengetahuan khususnya fisika.
Tahun 1905, terbitlah empat tulisannya tentang teori relativitas dalam majalah sains Annalen der Physik. Tulisannya ini mengundang banyak kontroversi dan perdebatan di antara para ilmuwan ternama saat itu. Salah satu tulisannya tersebut diselesaikannya dalam lima minggu setelah mengendap dalam pikirannya sejak AE berusia 16 tahun! Bukan main!
Tahun 1909, AE diangkat sebagai profesor di Universitas Zurich. Tahun 1915, AE menyelesaikan kedua teori relativitasnya. Penghargaan tertinggi atas kerja kerasnya sejak kecil terbayar dengan diraihnya Hadiah Nobel pada tahun 1921 di bidang ilmu fisika. AE juga mengembangkan teori kuantum dan teori medan menyatu. Tahun 1933, AE beserta keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena khawatir kegiatan ilmiahnya – baik sebagai pengajar ataupun sebagai peneliti – terganggu. Tahun 1941, ia mengucapkan sumpah sebagai warga negara Amerika Serikat. Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu orang lain yang kesulitan, AE ditawari menjadi presiden Israel yang kedua. Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di bidang itu. Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, AE meninggal dunia dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah dunia. Kendati begitu, AE sempat menangis pilu dalam hati karena karya besarnya – teori relativitas umum dan khusus – digunakan sebagai inspirasi untuk membuat bom atom. Bom inilah yang dijatuhkan di atas kota Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II berlangsung.
Teori relativitas umum pada dasarnya berbicara tentang ruang alam semesta yang melengkung. Hal ini dibuktikan oleh dua orang ilmuwan yang penasaran melalui foto cahaya bintang yang menyimpang dari yang seharusnya. Teori relativitas khusus berbicara tentang hukum fisika berlaku sama untuk semua pengamat selama mereka bergerak dengan kecepatan konstan pada arah yang tetap. Hal ini dapat kita buktikan sendiri. Misalnya kita berdiri di peron dan melihat seseorang menggigit rotinya dua kali di dalam gerbong kereta Bagi kita yang ada di peron, kita mengatakan bahwa ia menggigit rotinya di dua tempat yang berbeda. Namun bagi orang-orang yang ada di dalam gerbong kereta, mereka mengatakan bahwa orang tersebut menggigit rotinya di tempat yang sama alias tidak berpindah tempat. Nah, di sinilah relativitas itu bekerja.
Mengenai hal ini AE pernah berkelakar. Jika kita duduk di atas panci panas selama satu menit saja, kita akan merasakannya seperti satu jam. Namun, jika kita duduk bersama dengan orang yang kita cintai selama satu jam, kita akan merasakannya seperti satu menit saja.
AE meninggalkan sebuah wasiat bagi para generasi penerus yang ingin mengikuti jejaknya. Pesannya: ”Persyaratan paling penting bagi orang yang ingin menjadi seperti saya adalah mawas diri dalam hal APA yang dipikirkannya serta BAGAIMANA ia berpikir, bukan dalam hal apa yang dikerjakannya atau dialaminya”. Inilah pesan yang sangat berharga bagi kita semua.
Melalui tulisan ini juga kami pengasuh ManDiri ingin mengucapkan selamat atas terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade Fisika Internasional dan selamat berjuang kepada adik-adik siswa SMU dan pengurus Tim Olimpiade Fisika Indonesia (http://www.tofi.or.id) yang akan mengikuti Olimpiade Fisika Internasional di Bali tanggal 24-31 Juli 2002. Bagi semua pembaca ManDiri, mudah-mudahan kita mampu menyerap serta mengamalkan segala pelajaran berharga yang tersirat dalam kisah singkat kehidupan AE di atas dalam kehidupan kita serta menularkannya kepada orang lain. Dengan demikian akan tercipta generasi penerus yang lebih baik lagi.

Berpikir,Berakal...Atau (?)


Berpikir atau berakal atau …?????

Aku pernah liat filem dokumenter di tp, segerombol burung Sea Gull sedang bertelur di rerumputan sekitar pantai berpasir. Seekor induk Sea Gull mengerami tiga butir telur. Pagi itu menetas satu, Iduknya girang lalu terbang mencari ikan segar utk diri telah menahan lapar dan utk anaknya yg baru nongol. Sebelum Induk itu kembali kesarang , telur kedua menetas. Adiknya ini sama besarnya dgn yg menetas tadi, sama juga coraknya dan suaranya. Pengamat memberi tanda beda warna dgn StabiloBoss pada sisi sayap anak-anak itu. Induk yg sedang girang itu tiba dgn penuh makanan diparuhnya. Anak no.1 diberi makan terlebih dahulu, sisa makanan diberikan kepada anak.no2. Selalu begitu, hari kedua, urutan pemberian makanan itu juga demikian, anak no.1 diberi makan terlebih dahulu lalu sisa makanan dlm tembolok diberikan kepada anak.no2.
Di pagi hari ke tiga lahirlah anak no.3, si Bungsu, saat Ibunya pergi lama – mungkin ngerumpi dulu dgn nelayan – mencari teri di pantai. Ibu yg girang itu tiba dgn lebih penuh makanan di mulutnya. Anak no.1 diberi makan terlebih dahulu, anak no.2 diberi makan kemudian dan sisanya tidak ada untuk si Bungsu. Si Bungsu tak makan hari itu, mungkin karena si Ibu salah itung atau si abangan-nya terlalu rakus dan deras pertumbuhanya. Ke esokan harinya sistem distribusi ransum itu pun begitu juga, sama, selalu si abangan duluan secara urut seolah tau kode warna yg diberikan peneliti. Hari itu si Bungsu hanya kebagian kuahnya doang beberapa leleran lender teri, kuah tanpa ikan. Dia terus menangis mangap-mangap sementara abangannya telah nyenyak tidur. Anak no.3 tak makan juga hari itu, walau dia meregangkan lehernya paling panjang, walau dia telah berupaya mangap paling lebar, walau dia telah jinjit paling tinggi di tepi sarang. Begitu seterusnya, si Bungsu itu hanya beroleh lelehan lender dan mungkin ludah doang dari paruh Ibunya. Sedih aku melihanya, kasihan aku mendengar jeritnya, tapi Ibunya tetep tak mikir apa-apa kletannya, entah lah. Memprihatinkan.
Di pagi hari ke tiga atau empat kali, rupanya si Bungsu tak kuat lagi berupaya sia-sia. Si Bungsu itu keluar meninggalkan abangannya “gontai” secara ragu-ragu, dia tak lagi berharap menanti Ibunya tiba membawa teri utk nya; Dia langkah tiga langkah ke luar balik lagi ragu. Si Bungsu itu ngider kesana kemari mencoba mencari Induk yg mau merawatnya atau membaginya makanan. Di sekitar saranng itu banyak Sea Gull lain yg sedang mengerami telurnya. Si Bungsu mendekat sarang lain, tapi diusir oleh Induk yg sedang mengerami. Di usir di sini, diusir di sana, dipelototin di sana-sini, linglung dan lapar mencari Induk Semang yg rela pada nya. Setelah capek, si Bungsu mojok agak di belakang sarang yg sedang dierami. Sempat di pelototin si pemilik sarang sebentar, lalu dibiarin karena mungkin itu bukan ancaman dan juga males menoleh kebelakang terus mungkin. Saat induk itu pergi terbang mencari ikan karena ada satu telurnya yg baru menetas, si Bungsu berani mendekat ke pinggir sarang itu, lalu masuk meyakinkan dirinya bahwa dia adalah anggota di dalam sarang itu. Berhasil!!! Ya! Ketika Induk pemilik sarang itu datang dgn ikan di paruhnya, maka yg diberi makan terlebih dahulu adalah dia, si Bungsu itu, yg bagai si abangan diperlakukan oleh pemilik sarang. Sisa makanan diberikan kepada anak kandungnya. Dst, selamat lah dia!
Ajaib! Pikirku.
Apa ada yg dibicarakan kawanan Sea Gull ini kepada kita. Apakah anak burung umur tiga hari telah dapat menggunakan akalnya secara maksimum utk hidup? Apakah ibu kandungnya — sejauh kira-kira 3 meter dari anak itu — tidak merasa malu melihat ibu semang? Apakah ibu semang itu memuji akal si Bungsu itu lalu menjadikannya anak kandung?
TAU-ah gelap!
Kulihat semuanya fain-fain saja, damai gitu loh, tak ada masalah.
Tampaknya si Bungsu ingin hidup.
Tampaknya si Bungsu ingin selamat.
Tampaknya si Bungsu “Trial and error”
Salam Damai!