Dear Clara....
Aku pernah menulis
sebuah cerita untuk kamu. Tidak terlalu panjang, tapi disana tertulis beberapa
kejadian manis tentang aku dan kamu.
Ya, tentang kita.
Ah, entahlah kau hadir bagaikan lejitan mentari yang
tiba-tiba terang begitu saja,pada akhirnya akan kembali gemerlap dan kemudian
terang lagi dihantarkan oleh waktu untuk menemaniku .
sekedar mengingatnya kembali pun debar masih saja
terasa. haha!
Masih ingat bagaimana kamu Memberi semangat untukku
dulu?
Ingat kejadian ketika jemari kita tidak sengaja
saling mengisi sela - sela diantaranya?
Saat itu, apa kamu juga merasakan debar yang sama?
Tentang jemari kita yang pernah tanpa sengaja saling
mengisi.
Awalnya ku pikir kita bisa seperti itu.
Saling mengisi, saling melengkapi.
kamu, nyaris sempurna dengan Puteri iklan yang kerap
mengisi khayalku, dulu.
aku suka menulis, kamu suka membaca.
aku suka bernyanyi, kamu suka bermain musik.
aku suka mendengarkan cerita, dan kamu adalah
pendongeng yang baik.
Manis, bukan?
manis dia awal, pahit pada akhirnya hahaha
mungkin, kedekatan kita hanya sebatas rasa
penasaranmu terhadapku saja, sekedar memenuhi rasa ketertarikanmu saja.
setelah semuanya terpenuhi ,
setelah kamu menemukan yang lebih menarik, setelah
kamu menemukan yang menurutmu lebih baik.
semuanya berakhir.
Ternyata aku salah,
bukan ini yang semesta inginkan.
Bukan ‘aku dan kamu’ yang secara ajaib disatukan
menjadi ‘kita’. Bukan.
karena mungkin, kita terlalu ‘sama’,
terlalu sempurna apabila disatukan.
kamu sendiri yang dulu pernah bilang kan?
“apapun yang ada kata ‘terlalu’ nya itu tidak pernah
benar.”hahaha
Sudah ya, jangan datang dan pergi lagi. Ini hati,
bukan pelabuhan.
semoga meski kita ada di kota berbeda, pada
perjuangan yang berbeda. waktu masih saja berpihak untuk membahagiakan kita.
aamiin.
aku tidak akan mengucapkan padamu selamat tinggal.
nyatanya sampai saat ini aku belum pernah menemukan
ada yang selamat dari kalimat ‘selamat tinggal’.
sampai jumpa di kebahagiaan - kebahagiaan yang akan
datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar